"Indonesia Monitor" Adukan Pernyataan Rizal ke Dewan Pershttp://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/03/1607035/Indonesia.Monitor.Adukan.Pernyataan.Rizal.ke.Dewan.Pers
JAKARTA, KOMPAS.com — Tabloid Indonesia Monitor (IM) mengadukan kasus pernyataan Rizal Mallarangeng juru bicara tim kampanye nasional pasangan SBY-Boediono yang menuduh Tabloid IM sebagai yellow jurnalism (koran kuning) kepada Dewan Pers Nasional.
"Bahkan menyebut kami media comberan," ucap Mulia Siregar, Pemimpin Redaksi IM, di Kantor Dewan Pers Jakarta, Jumat (3/7).
Ikut hadir sekitar 20 karyawan IM dan mereka diterima oleh Leo Batubara, Wakil Ketua Dewan Pers, dan Abdulah Alamudi, anggota Dewan Pers.
Mulia mengatakan, kedatangannya ke Dewan Pers untuk meminta Dewan Pers menilai apakah tabloid IM benar koran kuning atau tidak.
Pernyataan Rizal, kata Mulia, jelas sangat tendensius dan melecehkan IM serta merendahkan profesi pers. "Kita sesalkan, kalau dia merasa keberatan sebaiknya melapor ke Dewan Pers. Tidak juga menggunakan hak jawab malah menghujat. Mulutnya perlu disekolahkan," tegasnya.
Mulia kembali menegaskan bahwa IM tidak pernah menyebarkan selebaran gelap, menyudutkan, apalagi melakukan black campaign terhadap salah satu capres atau cawapres.
IM, lanjutnya, dalam seluruh pemberitaan telah memenuhi semua kaidah jurnalistik. "Kami sudah tanya Boediono juga berusaha mendatangi rumah Boediono," ucapnya.
Tentang penyebaran berita berjudul "Apakah PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katolik?" dalam kampanye JK di Medan, lanjut Mulia, ia sangat menyayangkan peristiwa tersebut. "Kita mengutuk itu. Kami tidak bisa mengontrol pembaca karena ketika dicetak sudah jadi hak publik. Yang disayangkan kenapa sepenggal-sepenggal karena akan bermakna lain," tuturnya.
Dalam pertemuan tersebut, IM membawa beberapa bukti pernyataan Rizal di beberapa media untuk diserahkan kepada Dewan Pers.
-----------------------------------
SBY Harus "Paksa" Andi Mallarangeng Minta Maaf
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/03/10465983/SBY.Harus.Paksa.Andi.Mallarangeng.Minta.Maaf
JAKARTA, KOMPAS.com — Pernyataan Andi Alfian Mallarangeng yang menyinggung salah satu etnis tidak bisa dianggap sebagai pernyataan biasa. Calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun kecipratan getahnya. Ia didesak untuk memerintahkan sang jubir meminta maaf.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, saat mengikuti kampanye SBY-Boediono di Makassar, Andi mengatakan, "Belum saatnya orang Bugis menjadi pemimpin."
"Pernyataan Andi itu konyol. Dia akademisi, S-3, Phd, statement itu bukan hanya tidak etis, tapi juga tidak cerdas. Bagaimanapun, semua tahu, siapa pun bisa jadi Presiden tanpa memandang suku, agama, dan asal-usulnya," kata pengamat politik LIPI, Syamsuddin Haris, di Jakarta, Jumat (3/7).
Meski hanya mengatakan "belum waktunya", menurut dia, sudah ada unsur pendiskreditan terhadap etnis tertentu. "Belum waktunya, lalu kapan? Bukan hanya pernyataan yang sempit, tapi agak picik," ujar dia.
Oleh karena itu, SBY harus meminta dan memaksa Andi, yang juga Juru Bicara Presiden, untuk meminta maaf. Jika tidak, ia memprediksi akan menjadi bumerang bagi SBY. "Suara SBY di Sulawesi Selatan bisa beralih kepada pasangan lain secara signifikan. Apalagi, kabarnya dalam survei terakhir Lembaga Survei Indonesia, elektabilitas SBY turun. Dan bisa jadi akan turun semakin signifikan dengan pernyataan Andi," ujarnya.

No comments:
Post a Comment